| Veri Irawan saat menjalani perawatan di RSUD Haryoto Lumajang |
LUMAJANG – Veri Irawan (33), penambang pasir yang menjadi korban runtuhan material awan panas Gunung Semeru, dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (21/6/2026).
Korban mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Haryoto, Lumajang, setelah sempat menjalani perawatan intensif akibat luka bakar serius.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh rekan korban, Abdul Kholik. Ia menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam atas kepergian warga Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro tersebut.
"Betul, saudara Veri meninggal dunia setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Dia orang yang sangat baik. Saya selaku teman merasa sangat kehilangan, semoga korban meninggal dalam keadaan husnul khatimah," ujar Abdul Kholik kepada Potret.net, Minggu (21/6/2026).
Diberitakan sebelumnya, insiden nahas ini terjadi pada Sabtu (20/6/2026) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Saat itu, korban bersama sejumlah rekannya tengah melakukan aktivitas penambangan pasir di aliran sungai sekitar kawasan Jembatan Gladak Perak.
Secara tak terduga, tebing pasir yang merupakan material bekas erupsi Gunung Semeru ambrol dan langsung menimbun tubuh korban.
Karakteristik material yang masih menyimpan suhu panas tinggi dan waktu kejadian yang begitu cepat membuat korban tidak sempat menyelamatkan diri.
Akibatnya, korban dievakuasi dalam kondisi mengalami luka bakar yang cukup parah sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit.
Merespons tragedi ini, pihak berwenang langsung mengeluarkan imbauan tegas kepada para penambang pasir di kawasan aliran lahar Gunung Semeru.
Petugas meminta para penambang untuk menghentikan seluruh aktivitas penambangan pada malam hari.
Selain faktor keterbatasan jarak pandang yang memperlambat deteksi bahaya, aktivitas vulkanik Gunung Semeru saat ini dilaporkan masih fluktuatif.
Kondisi ini sewaktu-waktu dapat memicu runtuhan material atau erupsi sekunder yang mengancam keselamatan jiwa. (Sg)