| Tangkapan layar video YT/@potretnet. |
PASURUAN, potret.net – Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, H. Misto Leo Faisal, menyoroti pesatnya pertumbuhan bisnis kedai kopi (coffee shop) estetik dan tempat kemah mewah (glamping) yang dipelopori oleh anak muda di wilayah Tosari, Prigen, hingga Tutur.
Meskipun menyambut positif, ia mengingatkan para pengusaha muda agar tidak terjebak dalam fenomena "mimigri" atau sekadar ikut-ikutan tren tanpa perencanaan yang matang.
Hal tersebut diungkapkan Politisi legislator ini saat menjadi narasumber dalam dialog interaktif Podcast JAWARA (Jagongan Wakil Rakyat) garapan potret.net di Ruang Studio, Senin (8/7/2026).
"Anak-anak muda sekarang sebetulnya ingin meneruskan komponen-komponen pariwisata global di Pasuruan untuk dijadikan bisnis kecil-kecilan, seperti tempat tongkrongan atau glamping yang modalnya tidak terlalu besar. Tapi ini harus diseriusi. Kalau tidak, akhirnya jadi 'mimigri'. Tahu mimigri? Orang berbisnis kopi, semua ikut bikin kopi. Akhirnya kalau satu bangkrut, ya bangkrut semua," papar Misto di hadapan Host Novi.
Menurut pria yang memiliki latar belakang kuat di bidang pariwisata ini, sebuah bisnis yang berkelanjutan wajib memiliki rencana induk (master planning) yang jelas agar arah perkembangannya terukur dan memiliki keunikan tersendiri.
Sentil Masalah Promosi: Bromo dan Lapangan Golf Kelas Dunia Milik Pasuruan
Dalam kesempatan yang sama, Pak Misto juga menyentil lemahnya gaung promosi daerah. Ia menyayangkan banyak masyarakat luar daerah hingga wisatawan mancanegara yang menikmati keindahan aset wisata Kabupaten Pasuruan, namun tidak tahu bahwa aset tersebut secara administratif milik Kabupaten Pasuruan.
"Banyak orang tidak tahu bahwa ikon yang mendunia di Kabupaten Pasuruan itu ada berapa. Pertama adalah Gunung Bromo. Bromo itu milik kita, salah satunya di Pasuruan. Tapi mohon maaf, orang luar negeri tahunnya itu Indonesia atau daerah lain, mereka tidak tahu kalau itu belong to Kabupaten Pasuruan," cetusnya.
Tak hanya Bromo, destinasi wisata olahraga eksklusif seperti lapangan golf kelas dunia di kawasan Prigen juga mengalami nasib serupa dari segi penjenamaan (branding).
"Ada lapangan golf di Taman Dayu, ada Finna Golf. Orang luar itu tidak tahu kalau itu ada di Pasuruan, dikira milik Surabaya karena promosinya yang gencar di luar. Saya tahu betul karena dulu sering mendapat undangan seperti itu," tambahnya.
Pemerintah Harus Hadir Demi Dongkrak PDRB
Melihat fakta bahwa mayoritas pebisnis muda saat ini mengawali usahanya sebagai bisnis turunan keluarga yang sifatnya trial and error (uji coba), Misto mendesak Pemerintah Kabupaten Pasuruan untuk hadir mendampingi mereka secara serius.
Kehadiran pemerintah dalam memberikan pembinaan dan membantu menyusun ekosistem usaha dinilai akan memberikan dampak timbal balik yang besar bagi daerah, baik melalui sektor pajak maupun peningkatan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB).
"Saya melihat potensi bisnis anak muda di Kabupaten Pasuruan ini sangat bagus sekali karena kita punya ikon yang mendunia. Di sinilah pentingnya pemerintah hadir agar bisnis mereka lebih bagus dan terarah. Nanti keuntungannya kan kembali ke pemerintah dalam bentuk pajak, dan PDRB kita pun bisa ikut meningkat," pungkas legislator Komisi II tersebut. (red)

