| Ketiga narasumber dari Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan mengupas tuntas pasar tradisional vs. pasar modern dalam acara podcast JAWARA. |
PASURUAN – Keberadaan pasar tradisional kini kian terhimpit oleh menjamurnya toko modern dan pergeseran perilaku belanja masyarakat ke arah digital. Dalam program podcast "JAWARA: Jagongan Wakil Rakyat", tantangan ini menjadi sorotan utama guna mencari solusi konkret bagi keberlangsungan pedagang lokal.
Hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut, H. Arifin, Bapak Elyas, dan Bapak Heru membedah problematika yang dihadapi pasar tradisional di wilayah Pasuruan. Salah satu isu krusial yang dibahas adalah mengenai zonasi minimarket yang dinilai perlu penataan lebih ketat agar tidak mematikan ekonomi arus bawah.
Revitalisasi Bukan Hanya Fisik, Tapi Digital
Para narasumber sepakat bahwa revitalisasi pasar tidak bisa hanya mengandalkan perbaikan fisik bangunan semata. Di era digital saat ini, pedagang pasar tradisional dituntut untuk mampu beradaptasi.
"Digitalisasi pasar adalah keniscayaan. Kita tidak bisa menahan arus perubahan, tetapi kita bisa menyiapkan pedagang kita agar mampu bersaing melalui platform digital," ungkap salah satu narasumber dalam diskusi tersebut.
Selain strategi digitalisasi, komitmen pemerintah daerah melalui dukungan anggaran untuk perbaikan sarana pasar menjadi poin penting yang terus diperjuangkan oleh legislatif.
Harapannya, pasar tradisional tidak hanya menjadi tempat transaksi, namun juga ruang ekonomi yang nyaman dan berdaya saing.
Panggilan untuk Masyarakat
Diskusi ini menegaskan bahwa keberpihakan pada pasar tradisional bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya menjaga denyut nadi ekonomi rakyat tetap berdetak. Masyarakat diimbau untuk terus menjadikan pasar tradisional sebagai pusat belanja utama guna mendukung ekonomi lokal.
Simak pembahasan lengkap mengenai strategi penyelamatan pasar tradisional ini di kanal YouTube Potret Net dan kunjungi potret.net untuk ulasan mendalam lainnya. (Red)

