| Saat |
| Menag RI Prof Dr. KH. Nasaruddin Umar saat sampaikan sma utan di acara wisudah di Univ Yudharta Pasuruan Jatim |
PASURUAN, Potret.Net — Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI), Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menghadiri prosesi Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Universitas Yudharta Pasuruan ke 23 di Purwosari Kabupaten Pasuruan Jatim. Dalam orasi ilmiahnya di hadapan 646 wisudawan, Menag menekankan krusialnya mengawinkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Imtek) dengan iman dan takwa (Imtaq) di tengah era transformasi digital. Sabtu (10/10/2026).
Mengawali sambutannya, KH. Nasaruddin Umar mengajak seluruh wisudawan merenungkan hakikat wahyu pertama (Iqra) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada malam hari saat Nabi dalam kondisi ummi (buta huruf). Momentum sejarah tersebut menegaskan bahwa Islam sejak awal menempatkan ilmu pengetahuan pada kedudukan tertinggi.
Menag mengulas pergelutan panjang antara ilmu pengetahuan dan agama yang telah berlangsung selama berabad-abad sejak era pra-abad ke-6 Masehi hingga abad ke-1 Masehi, di mana ilmu dan filsafat berkembang pesat namun kering akan spiritualitas.
"Islam hadir membawa kebudayaan Iqra. Rasulullah SAW mengawinkan ilmu pengetahuan dan agama. Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah buta, sedangkan ilmu agama tanpa ilmu pengetahuan adalah lumpuh. Zaman boleh berganti, tetapi Al-Qur’an tidak boleh diganti," tegas Menag.
Lebih lanjut, Menag menggarisbawahi bahwa Rasulullah SAW sangat menghargai hasil riset dan memberikan apresiasi tinggi kepada para peneliti. Dalam konteks kepemimpinan modern, penunjukan figur hendaknya didasarkan pada kompetensi dan prestasi nyata, bukan sekadar faktor senioritas, garis keturunan, popularitas, atau kekuatan finansial.
"Seorang pemimpin sejati harus bernaluri manajerial dan berjiwa leader. Jangan sekadar mengopi-paste figur tokoh masa lalu, tetapi hadirkan manajer yang jenius, adaptif, dan berprestasi," ujarmya.
Menghadapi era pesatnya teknologi komputer dan kecerdasan buatan (AI) yang mulai menggantikan efisiensi tenaga manusia, Menag berpesan agar para wisudawan tidak menolak pengembangan skill hanya karena batasan latar belakang program studi.
"Jangan jadikan jurusan sebagai alasan menolak penguasaan teknologi. Masyarakat era kini menghendaki perkawinan yang serasi antara ilmu pengetahuan dan teknologi," lanjutnya.
Mengenai status Perguruan Tinggi Swasta (PTS), Menag meminta seluruh civitas akademika Universitas Yudharta tidak berkecil hati. Ia mencontohkan bahwa banyak perguruan tinggi ternama di Eropa berstatus swasta namun tetap menjadi tujuan favorit dunia karena kualitas dan keunggulannya.
Menag juga berharap Universitas Yudharta Pasuruan terus menjaga kemandirian serta obyektivitasnya sebagai menara ilmu dan pilar pijakan masyarakat tanpa bergantung pada kekuatan-kekuatan tertentu.
"Alumni Universitas Yudharta Pasuruan memiliki keunggulan karakter keagamaan yang digembleng langsung oleh para kiai dan dosen terverifikasi. Inilah sosok dambaan masyarakat: sarjana yang menguasai ilmu pengetahuan sekaligus memegang teguh nilai agama. Jadilah seperti Rasulullah dan jangan pernah berhenti belajar sepanjang hayat," pungkas Menag. (Son)

