| Kebakaran di kawasan Gunung Arjuno |
PASURUAN — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Kompleks Gunung Arjuno-Welirang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, masih belum padam hingga Sabtu (17/10/2026) pagi.
Tiupan angin kencang serta medan yang terjal menjadi kendala utama gabungan petugas dan relawan dalam menjinakkan si jago merah.
Sebagai langkah antisipasi keselamatan, pihak pengelola secara resmi telah menutup sementara akses jalur pendakian yang melintasi kawasan terdampak.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, api pertama kali terdeteksi pada Jumat (16/10/2026) siang. Salah seorang warga Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Syaiful, mengungkapkan bahwa kepulan asap pekat sudah mulai terlihat membubung tinggi dari arah Gunung Ringgit sebelum ibadah shalat Jumat dimulai.
"Sebelum shalat Jumat asap sudah terlihat membubung dari sekitar kawasan Gunung Ringgit. Karena siang hari, kobaran api belum begitu kelihatan jelas dari bawah. Api baru terlihat sangat membara dan meluas setelah waktu Maghrib," kata Syaiful saat ditemui pada Sabtu pagi.
Hingga saat ini, area vegetasi yang terkonfirmasi terdampak kebakaran terus meluas melingkupi beberapa titik strategis, di antaranya kawasan Gunung Ringgit, Tung Wulung, Putuk Bulak, hingga area sekitar Anjat.
Upaya pemadaman telah diupayakan secara maraton sejak Jumat sore oleh tim gabungan yang terdiri dari unsur Polisi Hutan (Polhut), Relawan Peduli Api (RPA), serta masyarakat setempat. Kendati demikian, karakteristik medan perbukitan yang sangat curam dan akses jalan yang terbatas menyulitkan pengerahan armada pemadam berkapasitas besar.
Tim pemadam terpaksa mengandalkan peralatan manual dan perataan jalur sekat bakar (firebreak). Sebagian petugas juga menggunakan tangki sprayer gendong serta alat pemukul api seadanya (gepyok) untuk memutus rantai kobaran api agar tidak semakin meluas ke pemukiman atau vegetasi lindung lainnya.
Proses pemadaman dilaporkan lebih efektif dilakukan pada malam hari hingga menjelang subuh. Selain suhu udara yang relatif lebih rendah, visualisasi titik api (hotspot) jauh lebih mudah terpantau di tengah kegelapan malam.
"Kendalanya ada pada hembusan angin yang sangat kencang dan medan terjal. Hal ini membuat titik api cepat berpindah dan membahayakan keselamatan personel di lapangan," ujar salah satu petugas pemadam di lokasi.
Akses Pendakian Ditutup Sementara
Guna mencegah timbulnya korban jiwa dari kalangan pendaki maupun wisatawan, otoritas terkait mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati area rawan dan menghentikan seluruh aktivitas luar ruang di kawasan Tahura Raden Soerjo.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih terus bersiaga dan berupaya menembus titik-titik api yang masih menyala. Penyebab pasti munculnya sumber api serta total luas lahan yang terbakar masih dalam proses penyelidikan dan pendataan oleh pihak berwenang. (Sg)