PASURUAN,Potret.Net - Universitas Yudharta Pasuruan sukses menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke23 yang diikuti oleh 644 bertempat di Kompleks Pondok Pesantren Darut Taqwa, Sengonagung, Purwosari, Pasuruan. Momentum bersejarah ini dihadiri langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia bersama Wakil Menteri Perindustrian RI sebagai wujud nyata sinergi strategis antara ulama dan umaro (pemerintah). Minggu (11/10/2026)
Dalam tausiyah dan amanat utamanya, Pengasuh Pondok Pesantren Darut Taqwa sekaligus Pendiri Universitas Yudharta Pasuruan, KH. Soleh Bahrudin, menegaskan bahwa teori akademis semata bukanlah jaminan mutlak kesuksesan di tengah masyarakat. Pengalaman praktis, integritas, dan pengabdian nyatalah yang menjadi kunci utamanya.
Sinergi Ulama dan Umaro: Mencetak Teknokrat Berkarakter
Dalam pencerahannya, KH. Soleh Bahrudin memaparkan pentingnya kolaborasi harmonis antara dunia pendidikan keagamaan dan pemerintah demi mencetak generasi teknokrat masa depan.
Peran Ulama: Berfokus pada penyiapan fondasi moral, teori keilmuan, dan karakter spiritual melalui bimbingan kiai, dosen, dan guru.
Peran Umaro: Berperan sebagai fasilitator yang menyediakan ruang, sarana, serta regulasi pendukung agar potensi sarjana dapat berkembang optimal.
Kehadiran Menag RI dan Wamenperin RI menegaskan keselarasan visi dalam mencetak sumber daya manusia yang berdaya saing global. Kiai Soleh menggarisbawahi bahwa Universitas Yudharta Pasuruan bukan sekadar lembaga yang minim aksi (omong-omong), melainkan terbukti nyata melahirkan lulusan berjiwa teknokrat dari berbagai fakultas yang siap memajukan daerah dan bangsa.
Integrasi Ilmu, Amal, serta Keseimbangan Formal dan Nonformal
Lebih lanjut, Kiai Soleh mengingatkan seluruh wisudawan-wisudawati untuk menyelaraskan antara ilmu formal dan nonformal serta menjaga keseimbangan antara teori dan amal nyata.
"Pendidikan formal ditujukan untuk pemenuhan profesi dan karier pekerjaan. Adapun pendidikan nonformal serta nilai keagamaan adalah bekal pengabdian tulus di tengah masyarakat. Agama tanpa ilmu umum akan lumpuh tak berdaya, sebaliknya ilmu umum tanpa agama akan buta—bagaikan memiliki mata namun tak memiliki hati."
Beliau mengimbau agar para sarjana tidak berhenti pada penguasaan teori semata, melainkan terus bergerak aktif menebar manfaat (beramal) secara langsung di lapangan.
Arah Masa Depan Indonesia Berada di Tangan Pemuda. Menutup pesan kebangsaannya, KH. Soleh Bahrudin menyampaikan rasa optimisme terhadap masa depan Indonesia. Beliau mengutip dawuh pujangga besar Syauqi Bey (Imam Syauqi) terkait peran sentral pemuda dalam menentukan nasib bangsa.
"Sesungguhnya di tangan pemudalah maju dan mundurnya suatu bangsa. Indonesia ke depan mau dibawa ke mana—apakah menjadi Indonesia Emas, Indonesia Cerah, atau justru Indonesia Cemas—semuanya ada di tangan kalian, bukan semata-mata di tangan pemimpin atau presiden." (Son)

